Eka Kurniawan Project

Life is prose, living a life is poetry

10 Tahun "Corat-coret di Toilet"

 

Saya pernah menulis cerita pendek sebelumnya, tapi jika ada yang bertanya cerita pendek saya yang pertama, saya akan menunjuk cerpen berjudul "Hikayat Si Orang Gila". Kenapa? Sebab itulah cerpen pertama yang saya tulis ketika saya benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang penulis.

Pada satu hari, saya pikir tahun 1997, saya membaca novel Knut Hamsun berjudul Lapar. Itu novel tentang perjuangan seorang penulis muda. Novel itu entah bagaimana membuat saya merasa ingin menjadi penulis, padahal tokoh di novel itu sendiri ujungnya malah pergi berlayar dan melupakan sejenak cita-citanya jadi penulis.

Meskipun saya sudah memutuskan akan menjadi penulis, saat itu saya masih belum mengetahui apa yang akan saya tulis. Saya pernah menulis cerpen-cerpen remaja, bahkan pernah mencoba menulis novel (dalam beberapa genre: silat, horor, remaja), tapi saya merasa apa yang sudah saya tulis tidak lagi memenuhi bayangan saya mengenai karya yang seharusnya saya tulis.

Baca selengkapnya »

Kategori: Jurnal

Slash dan Konser Obat Sakit Hati

Saya bertemu seorang teman di depan pintu masuk pertunjukan "Slash World Tour, Featuring Myles Kennedy". Teman saya tampak berseri-seri, membawa serta sekitar 50 orang temannya, sambil berkomentar, "Kita menunggu ini selama 15 tahun!"

Mungkin dia ada benarnya. Kalau mau dihitung lebih tepat, saya sudah ingin melihat Slash (lebih tepatnya seluruh personil Guns N' Roses) sejak dua puluh tahun lalu. Tapi hasrat itu sejujurnya memudar (dengan perasaan seperti ditinggal pacar) saat mereka bubar (lebih tepatnya, sejak Guns N' Roses hanya menyisakan Axl Rose seorang diri). Harapan itu semakin memudar dari tahun ke tahun, bersama dengan selera musik saya yang berkembang dan berganti-ganti.

Baca selengkapnya »

Kategori: Musik Ulasan

Mengintip Sejarah Industri Manga

Membaca novel grafis (atau dalam istilah penulisnya "gekiga") "Hanyut" karya Yoshihiro Tatsumi, serasa membaca tiga biografi sekaligus: biografi sang mangaka, yang di buku disamarkan bernama Hiroshi Katsumi; biografi industri manga; dan tentu saja kalau mau berlebihan (sebenarnya tidak berlebihan dalam konteks buku ini) biografi Jepang pasca-perang.

Kalau kita melihat perjalanan hidup Hiroshi berjuang untuk meraih impiannya menjadi mangaka (pembuat komik), pada dasarnya kita bisa melihat perjuangan umum para seniman. Terutama sebagai penulis (dan jujur saja, sebelum ingin jadi penulis saya sempat tergila-gila ingin menjadi komikus), saya bisa merasakan tahapan-tahapan karirnya yang berat.

Baca selengkapnya »

Kategori: Cergam Ulasan

Marina and The Diamonds

Hollywood infected your brain
You wanted kissing in the rain
Living in a movie scene
Puking American dreams
I’m obsessed with the mess that’s America
- Marina and the Diamonds, Hollywood

Saya baru saja mendownload lagu "Seventeen" dari Marina and the Diamonds (free dari websitenya). Boleh dibilang, dia salah satu penyanyi favorit saya.

Pertamakali mendengar lagunya melalui saluran teve "V", dengan videoklip "Hollywood" versi akustik. Lagu dan vokalnya terasa unik, sehingga selama beberapa waktu, saya sering hanya menyetel saluran teve musik (V atau MTV), untuk menunggu klip lagu tersebut. Tak berapa lama, klip lagu tersebut muncul yang versi original.

Baca selengkapnya »

Kategori: Musik Ulasan

Inception: Ide itu Virus

Seperti virus, ide bisa berkembang pesat di pikiran seseorang. Soal apakah itu menghancurkan atau membangun, itu perkara lain. Itulah yang ada di benak Cobb, sekaligus inti cerita dari film karya Christopher Nolan, Inception.

Tapi sebagaimana virus, tentu saja ada prasyarat tertentu suatu ide bisa berkembang cepat. Menurut Cobb, salah satu yang paling utama: ide harus sesederhana mungkin, sehingga mudah dipahami. Selain itu, ini juga yang paling penting: pikiran harus menerimanya sebagai sesuatu yang logis. Jika prasyarat itu terpenuhi, sekali ide sederhana tersebut ditanam, ia bisa berkembang menjadi apa saja.

Tentu saja kita semua tahu premis tersebut. Virus ide itu kita saksikan tiap hari: kita ciptakan, kita konsumsi, dan bahkan menjangkiti kita. Karya-karya filsafat diciptakan, apa lagi jika bukan untuk menyebarkan ide. Ide-ide ini bisa sederhana, bisa pula kompleks. Yang kompleks masih mungkin untuk berkembang: asal pikiran yang menerimanya bisa memahami logika di dalam ide tersebut.

Baca selengkapnya »

Kategori: Film Ulasan

Pacar Lewat

"Pergi, yuk?"
"Kenapa emang?"
"Pacarku lewat."

Kategori: Fiksimini
129